Inventory Carrying Cost

Menurut buku "Operations Management" yang disusun oleh Heizer and Render, inventory carrying (holding) cost (di Amerika) dapat dijelaskan sebagai berikut :


Inventory Carrying (Holding) Cost adalah biaya yang "tersembunyi" ketika persediaan bahan baku ataupun barang 1/2 jadi serta barang jadi terpaksa disimpan tanpa transaksi penggunaan.
Dasar pemahamannya adalah cara berpikir seolah-olah kita menyewa suatu luasan per meter persegi untuk menyimpan bahan baku dan barang 1/2 jadi dan barang jadi kita.

Berdasarkan jenis kelompoknya, biaya rata-rata (average cost) yang dinyatakan dalam persen dari nilai persediaan (inventory value) :

1. Housing costs, seperti misalnya, biaya sewa bangunan, depresiasi, biaya operasional, dan pajak serta persediaan; rata-rata mencapai 6% (rentang persentase normal = 3 - 10%).

2. Biaya Penanganan Material (handling costs), termasuk juga, peralatan dan perlengkapan, sewa atau depresiasi, biaya energi dan bahan bakar, dan biaya operasional; rata-rata mencapai 3% (rentang persentase normal = 1 - 3,5%).

3. Biaya Tenaga Kerja (Labor cost) yang timbul dari penanganan tambahan/ekstra; mencapai 3% (rentang persentase normal = 3 - 5%)

4. Biaya Investasi (Investment costs), misalnya biaya peminjaman, pajak, dan asuransi atas persediaan; mencapai 11% (rentang persentase normal = 6 - 24%)

5. Biaya Kerugian akibat pencurian, material yang terbuang akibat persiapan operasional, dan akibat usia penyimpanan / kadaluwarsa; mencapai 3% (rentang persentase normal = 3 - 5%)

Sehingga TOTAL (Overall) carrying cost dapat mencapai 26% dari nilai persediaan (inventory value).

Catatan :
Persentase tersebut adalah pendekatan, karena nilai tepatnya tergantung pada jenis usaha, lokasi, tingkat bunga pinjaman pada saat tersebut.
Dalam kenyataannya, seringkali inventory holding (carrying) cost dalam setahun dapat mencapai angka 40% dari nilai persediaan.
Banyak perusahaan bahkan membuat estimasi inventory carrying (holding) cost terlalu kecil sehingga terlambat dalam mengantisipasinya.

Semoga bermanfaat ...

The responsibility is mine !

Many people still have difficulties to define or explain about responsibilities in their jobs.
This may lead to a problem of leadership when they need to build a team with clear tasks and responsibilities.

Let's make it clear ! Let's join the group of "potential leaders" to find a better understanding about responsibility.

Strong organization may lead the teams into great teamwork and furthermore to a better improved strategies toward a greater and brighter company.

.

8 ALASAN Menuju Hidup Yang Tanpa Tujuan


8 Alasan yang paling sering dikemukakan ketika pertanyaan "Mengapa Anda tidak bersemangat mengejar impian tujuan hidupmu ?"

  • Sebagian orang tidak mempunyai keyakinan yang kuat bahwa tujuan hidupnya dapat dicapai. Umumnya semangat juangnya sudah menurun seiring dengan berjalannya waktu. Kemungkinan tujuan yang ditetapkannya cukup "tinggi" dan tidak disertai dengan tahapan-tahapan yang semestinya disusun sebagai "batu loncatan".
  • Sebagian orang tidak mengetahui bagaimana cara untuk menyusun sebuah rencana. Tanpa perencanaan yang baik, tujuan yang ada menjadi terasa sangat sulit untuk dicapai.
  • Sebagian orang merasa malas untuk melakukan perencanaan tersebut. Tujuan yang ditetapkannya mungkin kurang menantang, sehingga mereka tidak termotivasi dengan baik.
  • Sebagian orang mempunyai sikap "tidak peduli" dengan tujuan hidupnya. Orang-orang yang bersikap tidak peduli pada kehidupan pribadinya, bukanlah orang-orang yang menghargai dirinya sendiri.
  • Sebagian orang merasa malas untuk berusaha lebih keras untuk "mengejar" tujuan hidupnya. Tujuan yang kurang menantang bisa saja membuat mereka bersikap "mau dapat ... boleh ..., mau tidak dapat ... juga boleh ..."
  • Sebagian orang merasa bahwa mereka terlalu sibuk. Padahal kenyataannya, banyak yang karena tidak menyusun rencana, maka mereka menjadi terlalu sibuk melakukan hal-hal tanpa tujuan yang jelas, dan akhirnya menjadi seolah-olah bergerak berputar terus dalam lingkaran tak berujung.
  • Sebagian orang tidak ingin melakukannya karena pernah mengalami kegagalan sebelumnya. Luka dalam yang terjadi perlu diatasi dengan terapi yang tepat, sehingga tidak menjadi trauma yang membatasi dinamika kehidupan kita.
  • Sebagian orang sungguh-sungguh tidak mengerti apa saja yang perlu dilakukannya untuk mencapai tujuan yang diimpikannya. Mereka yang mengalami situasi ini, sangat mungkin memerlukan konseling lebih lanjut.
Hidup tanpa tujuan yang jelas identik dengan pertandingan sepak bola tanpa gawang. Kita akan menjadi sibuk mengendalikan bola, namun arah yang dituju tidak pernah menjadi jelas. Akibatnya, tidak pernah ada kata keberhasilan  dalam kamus mereka !